Belakangan ini drama China, Korea, maupun short drama kembali menjadi tren di kalangan para penikmat drama karena berhasil menarik rasa penasaran terhadap ceritanya. Popularitas drama-drama tersebut ternyata tidak hanya menarik pagi penikmat drama, tetapi juga dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Pernahkah kalian melihat iklan yang menawarkan penghasilan hanya dengan menonton drama China, drama Korea, atau short drama? Atau menemukan situs yang menawarkan tontonan gratis terbaru tanpa perlu berlangganan? Kelihatannya memang sangat menarik, menguntungkan dan mudah dilakukan. Namun, di balik iming-iming tersebut, ternyata tersimpan skema penipuan yang bisa menguras rekening, bahkan mencuri data pribadi.
Modus dari penipuan berkedok drama ini adalah skema penipuan digital yang menyamar sebagai aplikasi atau platform ‘penghasil uang’ dengan tugas yang berkaitan dengan drama, seperti menonton episode, menonton iklan, memberikan rating, menulis ulasan, hingga pembelian hak cipta drama untuk memperoleh pendapatan harian dan bonus tambahan. Tujuannya bukan hiburan, melainkan membuat korban percaya bahwa mereka sedang mendapat penghasilan sah, padahal sebenarnya sedang diarahkan untuk masuk ke skema penipuan berlapis. Pola yang digunakan pelaku umumnya mengikuti tahapan berikut:
- Korban diajak bergabung melalui grup WhatsApp, Telegram, atau media sosial dengan tawaran ‘kerja sampingan’ menonton drama.
- Korban diminta mengunduh aplikasi tertentu dan menyelesaikan ‘misi harian’ berkaitan dengan drama.
- Korban kemudian diberikan komisi kecil sebagai umpan untuk membangun kepercayaan.
- Setelah itu, korban diminta melakukan deposit dengan alasan ‘buka level’, ‘tambah komisi’, atau bahkan ‘membeli hak cipta’ drama tersebut.
- Korban juga didorong merekrut anggota baru (skema member get member) demi bonus tambahan.
- Setelah dana yang disetor cukup besar, komisi berhenti dibayar dan aplikasi atau situs terkait menghilang atau diblokir.
Modus berkedok drama ini memiliki varian yang lebih berbahaya, yaitu penyebaran malware lewat file Android Package Kit (APK). Dalam varian ini, korban dikirimi file berekstensi .apk lewat WhatsApp atau Telegram dengan iming-iming ‘Drama Korea Terbaru’ atau ‘Nonton Gratis Full Episode’. Begitu file tersebut dipasang di ponsel, aplikasi jahat ini akan:
- Mencuri kredensial akun mobile banking dan menguras saldo tanpa sepengetahuan korban.
- Membaca SMS dan mengambil alih kode OTP.
- Mengakses daftar kontak dan menyebarkan diri secara otomatis ke kontak WhatsApp
korban lainnya. - Mencuri data pribadi, seperti nomor identitas, foto, hingga kredensial akun media sosial.
- Menyamar sebagai aplikasi resmi (misalnya aplikasi bank atau layanan streaming) agar
korban mau memasukkan data sensitif.
Berikut ciri-ciri umum metode penipuan berkedok drama yang perlu diwaspadai?
- Tawaran penghasilan instan hanya dengan menonton video atau drama.
- Aplikasi meminta deposit dana untuk ‘membuka level’ atau menambah komisi.
- Ajakan merekrut anggota baru demi bonus tambahan.
- File .apk dikirim langsung melalui chat pribadi atau grup, bukan dari Play Store/App Store
resmi. - Aplikasi atau platform tidak terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) di
Kementerian Komunikasi dan Digital.
Untuk mencegah atau mengurangi potensi ancaman dari penipuan ini, kalian dapat menerapkan langkah-langkah berikut:
- Tonton drama hanya di platform resmi, seperti Netflix, Vidio, WeTV, iQiyi, Viu, atau Disney+ Hotstar.
- Jangan pernah mengunduh atau memasang file .apk yang dikirim lewat chat.
- Mewaspadai setiap tawaran penghasilan instan, terutama yang meminta setoran dana di awal.
- Cek legalitas aplikasi atau platform melalui situs resmi OJK sebelum ikut bergabung.
- Jangan beri izin akses SMS, kontak, atau aksesibilitas ke aplikasi yang tidak jelas asal usulnya.
- Jika sudah terlanjur menjadi korban, segera laporkan ke Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) atau kontak OJK 157.
Ingat “NIKMATI DRAMANYA, JANGAN SAMPAI JADI KORBAN”
Penulis: Gracia Putri, Gretelia Faustine, Jessica Pratami, Wiliam Loenardy



